Kamis, 26 Mei 2011

pengertian akal

1. Pengertian dan pembagian akal
a. Pengertian akal
Kata akal berasal dari kata dalam bahasa Arab, al-‘aql. Kata al-‘aql adalah mashdar dari kata ‘aqola – ya’qilu – ‘aqlan yang maknanya adalah “ fahima wa tadabbaro “ yang artinya “paham (tahu, mengerti) dan memikirkan (menimbang) “. Maka al-‘aql, sebagai mashdarnya, maknanya adalah “ kemampuan memahami dan memikirkan sesuatu “. Sesuatu itu bisa ungkapan, penjelasan, fenomena, dan lain-lain,semua Yang Ditangkap Oleh Panca indra.
Letak akal Dikatakan di dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj (22) ayat 46, yang artinya,” Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi lalu ada bagi mereka al-qolb (yang dengan al-qolb itu) mereka memahami (dan memikirkan) dengannya atau ada bagi mereka telinga (yang dengan telinga itu) mereka mendengarkan dengannya, maka sesungguhnya tidak buta mata mereka tapi al-qolb (mereka) yang di dalam dada.
” Dari ayat ini maka kita tahu bahwa al-’aql itu ada di dalam al-qolb, karena, seperti yang dikatakan dalam ayat tersebut, memahami dan memikirkan (ya’qilu) itu dengan al-qolb dan kerja memahami dan memikirkan itu dilakukan oleh al-‘aql maka tentu al-‘aql ada di dalam al-qolb, dan al-qolb ada di dalam dada. Yang dimaksud dengan al-qolb tentu adalah jantung, bukan hati dalam arti yang sebenarnya karena ia tidak berada di dalam dada, dan hati dalam arti yang sebenarnya padanan katanya dalam bahasa Arab adalah al-kabd.
Sebagaimana yang sudah di sebutkan dalam pasal hukum - hukum yaitu adanya sebutan hukum tetapi tidak termasuk hukum hukum , begitu pula di dalam hukum akal , ada sebutan akal yang tidak termasuk di dalam hukum akal ( tidak bisa dijadikan putusan hukum akal ) karena beda maksudnya.
~ Akal yang mengandung arti Ikhtiar seperti “ saya sudah kehabisan akal untuk mengalahkan “

~ Akal yang mengandung arti hukum. Seperti ”Akal saya tidak menerima kalau dia terbang “
~ Akal yang mengandung arti Pintar. Seperti “ dia akalnya cerdas sekali “
~ Akal yang mengandung Dewasa. Seperti “ anak kecil itu belum punya akal “
Akal, menurut pengertian pra-Islam itu, berhubungan dengan pemecahan masalah. Karena itu, ia bersifat praktis saja. Akal seperti itu, menurut istilah psikologi kogntif, adalah problem solving capacity (kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan jalan keluar dalam situasi apa pun juga Seorang penyair-perampok pra-Islam, Al-Shanfara, sebagaimana dikutip oleh Toshihiko Izutsu , telah memakai kata itu dengan makna praktisnya dalam syairnya:Endang Saifuddin Anshari, Op.cit. , h.6. Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, Jakarta: Penerbit Rajawal Press, 1988. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.205. 8 Taufik Pasiak, op.cit, h.194. 9 Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Pendekatan Semantik Terhadap Al Quran, Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 1997.Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.197. 10 Ibid, h.65. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.197.

b. Pembagian akal
Pembagian akal :
~ Akal Ghorizi , yaitu akal yang mempunyai kekuatan untuk makrifat kepada Allah swt.
~ Akal Thobi’i , yaitu akal yang mempunyai kemampuan untuk mengerti namun tidak mampu makrifat kepada Allah swt.
Seandainya manusia yang mempunyai akal ghorizi tidak bisa menggunakan akalnya untuk mengenal Allah swt , pasti turun derajatnya melebihi hewan. Yang hanya mempunyai akal thobi’i.

Dalam Alquran dijelaskan :

Dan Kami menjadikan isi neraka jahanam dari bansa jin dan manusia ,mereka mempunyai akal tapi tidak di pakai untuk memahami ayat – ayat Allah , dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipakai melihat ( tanda – tanda kekuasaan Allah ) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipakai untuk mendengar ( ayat - ayat Allah ).Mereka laksana hewan , bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka yaitu orang – orang yang lalai.
2. Fungsi akal menurut Al-Qur’an
Dalam agama islam menerima keyakinan agama harus lewat pemikiran dan perenungan akal, dan Al-Qur’an dalam hal ini senantiasa mengajak untuk berpikir, bertadabbur, dan menjauhi taqlid buta dalam berbagai masalah akidah dan keyakinan, serta memandang sangat buruk orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (Q.S : Yunus :100).

Akal juga dalam riwayat merupakan maujud yang paling dicintai Tuhan dan menjadi parameter untuk pahala dan dosa anak-anak Adam, serta merupakan hujjah bathin bagi manusia. Abu Abdillah As berkata: “Ketika Tuhan menciptakan akal, Tuhan berkata padanya: menghadaplah, maka akal menghadap, kemudian berkata padanya: membelakanglah, maka akal membelakang, kemudian Tuhan berkata: “Demi kemuliaanku dan keagunganku, tidak aku ciptakan makhluk yang lebih aku cintai darimu, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi, dan denganmu Aku mengumpulkan (membangkitkan) (Bihâr al-Anwâr Juz 1\96)

Demikian pentingnya fungsi akal bagi manusia, maka Al-Qur’an menekankan pada manusia untuk memanpaatkan nikmat besar Tuhan ini dengan cara mengajak manusia menghilangkan dan menghancurkan berhala-berhala yang menjadi penghalang penggunaan akal supaya akal mampu mengutarakan argumen-argumen rasional.
Dalam agama islam menerima keyakinan agama harus lewat pemikiran dan perenungan akal, dan Al-Qur’an dalam hal ini senantiasa mengajak untuk berpikir, bertadabbur, dan menjauhi taqlid buta dalam berbagai masalah akidah dan keyakinan, serta memandang sangat buruk orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (Q.S : Yunus :100).

Akal juga dalam riwayat merupakan maujud yang paling dicintai Tuhan dan menjadi parameter untuk pahala dan dosa anak-anak Adam, serta merupakan hujjah bathin bagi manusia. Abu Abdillah As berkata: “Ketika Tuhan menciptakan akal, Tuhan berkata padanya: menghadaplah, maka akal menghadap, kemudian berkata padanya: membelakanglah, maka akal membelakang, kemudian Tuhan berkata: “Demi kemuliaanku dan keagunganku, tidak aku ciptakan makhluk yang lebih aku cintai darimu, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi, dan denganmu Aku mengumpulkan (membangkitkan) (Bihâr al-Anwâr Juz 1\96)

Demikian pentingnya fungsi akal bagi manusia, maka Al-Qur’an menekankan pada manusia untuk memanpaatkan nikmat besar Tuhan ini dengan cara mengajak manusia menghilangkan dan menghancurkan berhala-berhala yang menjadi penghalang penggunaan akal supaya akal mampu mengutarakan argumen-argumen rasional.

3. Akal menurut filosof islam
3. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Farabi

Akal memiliki posisi yang sangat tinggi dalam pemikiran Al-Farabi. Filsuf asal Turki yang terkenal dengan filsafat emanasi (Al-Faid: Pancaran) ini menganggap bahwa Tuhan berhubungan dengan ciptaannya dengan perantara akal dan malaikat.

4. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Kindi

Menurut Al-Kindi, satu-satunya filsuf berkebangsaan Arab dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat penting dan tinggi dalam pencarian kebenaran. Bagi Al-Kindi, akal termasuk salah satu alat yang dibutuhkan untuk mencari kebenaran yang hakiki dalam kehidupan, di samping agama dan argumen-argumen rasional.

5. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Ibnu Rusyd

Akal menurut Ibnu Rusyd merupakan sesuatu yang memiliki posisi yang sangat tinggi. Seorang peneliti barat bernama Phillip K. Hitti pernah berujar bahwa Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis, dan menyatakan berhak menundukkan segala sesuatu kepada pertimbangan akal, kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan. Tetapi ia bukanlah seorang free thinker (pemikir bebas) atau seorang yang tidak beriman.

6. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Dr. Haidar Bagir

Akal adalah rasul dalam diri manusia. Sementara Rasul adalah akal di luar manusia. Begitu ucapan beliau dalam sebuah wawancara dengan kontributor JIL (Jaringan Islam Liberal). Menurut beliau lagi, sesungguhnya wahyu yang dibawa oleh para Rasul itu membawa kita ke satu titik yang akal juga bisa membawa kepadanya. Fungsi wahyu adalah untuk mengisi tempat-tempat di mana agama percaya itu berada di luar batasan manusia.

7. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Ibnu Sina

Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia hanya mempunyai satu daya, yaitu berfikir yang disebut akal. Akal menurutnya lagi terbagi dua:

1. Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang.
2. Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat.

Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedang akal teoritis kepada alam metafisik. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu. Akal praktis, kalau terpengaruh oleh materi, tidak meneruskan arti-arti, yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang, ke akal teoritis. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik.Akal teoritis mempunyai empat tingkatan:

1. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni.
2. Akal bakat, yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni.
3. Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni.
4. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni.

Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf.

8.Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Ghazali

Akal menurut Al-Ghazali bukanlah sesuatu yang sangat tinggi kedudukannya. Menurut beliau, adalah al-dzauq dan ma’rifat sufilah yang justru akan membawa seseorang kepada kebenaran yang meyakinkan. Pendapat ini beliau cantumkan dalam kitabnya yang terus menjadi perdebatan hingga sekarang, yakni tahafut al falasifah (kerancuan filsafat). Pemikiran Al-Ghazali ini, konon sangat mempengaruhi dunia islam saat itu. Bahkan banyak juga para pengamat dunia islam yang menganggap bahwa buku dan pengaruh Al-Ghazali inilah yang membuat islam terpuruk dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan sampai hari ini.

Menurut Imam Al Ghazali (1058-1111) , seorang pemikir besar Islam, dengan mengacu pada pengertian kerja atau fungsi akal menyatakan bahwa akal itu tidak bertempat, baik di dalam maupun di luar badan manusia, bersifat immaterial, dan tidak terbagi bagi. Akal berhubungan dengan badan dalam bentuk : (1) muqbil ala al-badan (menghadap badan), mufid lahu (memberi keuntungan), dan (3) mufidh alaih (mengalir kepadanya). Tiga bentuk ini menitik beratkan pada fungsi, proses atau kegiatan. Akal sebagai organ yang mengikat dan menahan secara filosofis juga dijelaskan oleh pemikir Islam dari Malaysia, Syed Muhammd Naquib Al Attas, adalah sesuatu organ aktif dan sadar yang mengikat dan menahan objek ilmu dengan kata-kata atau bentuk-bentuk perlambang lain.
Ini menunjukkan pada fakta yang sama dan bermakna sama dari apa yang ditunjuk oleh kata : qalb, ruuh, dan nafs. Sebagaimana Al Ghazali, Al-Attas berpendapat bahwa keempat kata itu bermakna sama. Kesemuanya menunjukkan realitas yang bertingkat-tingkat (maraatib al wujuud).Pada masa pra-Islam, akal hanya berarti kecerdasan praktis yang ditunjukan seseorang dalam situasi yang berubah-ubah.

9. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Yusuf Al-Qardhawi

Akal adalah sesuatu yang sangat berharga dalam diri manusia. Kemunculan kata akal dalam Al-Qur’an yang bersifat istifham inkari (pertanyaan retoris) bermaksud untuk memotivasi, memberi semangat, dan mendorong manusia untuk menggunakan akalnya.

10. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Asy’ari

1. Dalam teologi Al-Asy’ari akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy’ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis.
2. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di sini bersikap statis.
3. Pemikiran teologi al-Asy’ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini, tak terdapat, yang ada ialah kebiasaan alam. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan.
http://www.wimpermana.web.ugm.ac.id/akal-dan-pikiran-menurut-agama-budha-dan-islam/

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan